progreskaltim.id Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kutai Karatenegara (DPMD Kukar), Arianto, mengapresiasi model intervensi penurunan Stunting yang dilakukan Pemerintah Desa Muara Enggelam. Baginya, strategi yang dijalankan bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kukar.
“Pendekatan kolaboratif, penggunaan anggaran yang tepat sasaran, serta edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci menurunkan angka stunting secara efektif,” kata Arianto baru-baru ini.
Menurutnya, keberhasilan Muara Enggelam tidak terlepas dari kerja aktif para kader Posyandu yang menjadi ujung tombak pelayanan di tingkat desa. Khususnya untuk pemantauan ibu hamil, bayi, dan balita.
“Karena itu, kami pastikan kadernya dibekali pengetahuan dan keterampilan agar bisa memberikan layanan terbaik,” tegasnya.
Kepala Desa Muara Enggelam, Madi menguraikan, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) berperan sentral mendeteksi gangguan pertumbuhan anak dan memberikan edukasi langsung kepada orang tua.
Edukasi ini penting terutama untuk mengatasi persepsi keliru masyarakat terkait kondisi anak yang tampak sehat secara fisik, namun mengalami keterlambatan pertumbuhan.
Peningkatan kesadaran masyarakat, edukasi gizi seimbang, serta pendampingan intensif menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Terutama menjelaskan kepada orang tua, terkait kondisi anak-anak itu yang kelihatannya sehat, tapi pertumbuhannya lambat,” kata Madi saat ditemui Sabtu, 10 Mei 2025.
Madi mengakui, hasil positif ini tak lepas dari sinergi lintas sektor dan dukungan dari DPMD Kukar dan Dinas Kesehatan Kukar.
“DPMD dan Dinkes Kukar terlibat aktif meningkatkan kapasitas kader posyandu supaya lebih efektif memberi layanan pendampingan kepada masyarakat,” terangnya.
Tak hanya itu, keterlibatan tenaga medis dari puskesmas hingga dokter spesialis juga turut memperkuat langkah intervensi. Bahkan, pemerintah desa pernah mendatangkan dokter ahli untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap status gizi dan pertumbuhan anak-anak di wilayah perairan tersebut.
“Pada 2024, kita alokasikan Rp70 juta untuk mendukung program penanganan stunting,” ungkapnya.
Guna mengatasi tantangan kesadaran orang tuang memantau tumbuh kembang anak, pihaknya rutin menggelar program pemberian makanan bergizi 2 sampai 3 kali sebulan. Ini bagian dari intervensi penanganan stunting sejak dini. (adv/dpmdkukar)

Discussion about this post