progreskaltim.id Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Kutai Kartanegara dan segenap Pemerintah Desa kompak menurunkan prevalensi stunting. Berbagai kolaborasi lintas sektor dilakukan melibatkan banyak pihak terkait. Pendekatan terpadu ini dinilai penting agar penanganan stunting tidak hanya berjalan administratif, tetapi juga berdampak langsung kepada masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor ini salah satunya dijalankan di Desa Loa Sakoh, Kecamatan Kembang Janggut. Melibatkan tenaga kesehatan desa, pemerintah kabupaten, hingga dukungan perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Pendekatan terpadu dinilai penting agar pencegahan stunting tidak hanya berjalan administratif, tetapi berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Sekretaris Desa Loa Sakoh, Herdi, mengatakan layanan Posyandu dan Puskesmas Pembantu (Pusban) berjalan cukup aktif dan konsisten setiap bulan. Melalui layanan tersebut, tenaga kesehatan memantau kondisi balita melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga skrining kesehatan dasar. Proses ini disebut menjadi indikator penting dalam mendeteksi potensi stunting lebih awal.
“Jika edukasi berjalan baik, maka risiko stunting bisa ditekan lebih maksimal,” ujar Herdi.
Selain layanan kesehatan rutin, desa juga mendorong penyuluhan tentang pola asuh, pola makan, dan sanitasi keluarga. Menurutnya, pencegahan stunting bukan hanya tentang ketersediaan pangan, tetapi juga pemahaman orang tua tentang gizi seimbang serta kebersihan lingkungan.
Pemerintah desa juga menggandeng perusahaan untuk mendukung penyediaan tambahan makanan bergizi bagi balita dan ibu hamil. Bantuan tersebut diberikan melalui program CSR dan disalurkan secara bertahap sesuai kebutuhan sasaran. Langkah ini disebut sebagai wujud sinergi bersama dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut adalah program penyediaan makanan bergizi. Intervensi gizi ini menyasar kelompok prioritas seperti balita dan ibu hamil. Program baru tersebut disebut mampu meningkatkan ketepatan layanan di tingkat desa.
“Kami tidak berjalan sendiri, tapi bersama-sama dengan mitra dan dukungan dari berbagai pihak,” jelas Herdi.
Dengan sinergi yang berjalan, Pemerintah Desa Loa Sakoh optimistis angka stunting tetap dapat dikendalikan bahkan semakin menurun. Herdi berharap komitmen seluruh pihak tetap konsisten, mengingat pencegahan stunting merupakan proses berkelanjutan dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu program.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kukar, Arianto sempat menekankan bahwa pencegahan stunting dan penguatan pemberdayaan masyarakat merupakan prioritas nasional.
Karena itu, ia menekankan bahwa penggunaan Dana Desa salah satunya tetap diarahkan menangani program prioritas nasional ini.
“Intinya, bagaimana Dana Desa ini bisa membantu mengatasi stunting dan memberdayakan masyarakat. Desa silakan menyesuaikan penggunaan dananya sesuai arahan pemerintah pusat,” ucap Arianto beberapa waktu sebelumnya ketika menghadiri rapat pembahasan penyerapan anggaran desa di Kukar. (*adv/dpmdkukar)
Discussion about this post