progreskaltim.id Dari panggung terbuka di Jembayan hingga jalanan padat di Tenggarong, denyut Kutai Kartanegara terasa hidup. Di saat warga bersorak menikmati Festival Jembayan Kampung Tuha (FJKT) ke-6, di sisi lain, alat berat terus bekerja memperbaiki jalan utama. Di wilayah lain, wacana pemekaran Kecamatan Tenggarong Seberang mulai mencuat, membawa harapan baru soal pemerataan pelayanan publik.
Festival Jembayan kembali digelar setelah lima tahun vakum. Perayaan ulang tahun Desa Jembayan ke-390 itu menghadirkan kemeriahan budaya dan geliat ekonomi warga. Lapak kuliner dan panggung seni tradisional kembali memikat masyarakat. “Sudah lama kami rindukan festival ini. Selain meriah, ini juga membuka peluang bagi warga untuk jualan dan menampilkan produk lokal,” ujar Rizka, warga RT 4 Desa Jembayan, Sabtu (12/7/2025).
Sekretaris Desa Jembayan, Syarifuddin, menyebut festival ini tak hanya hiburan tahunan. “Lewat festival ini, kita perkuat jati diri dan nilai-nilai gotong royong yang mulai luntur,” katanya. Di tengah derasnya modernisasi, FJKT menjadi ruang kecil untuk mengingat asal-usul dan solidaritas warga desa.
Sementara di Tenggarong, hiruk pembangunan jalan dan drainase memunculkan keluhan baru: kemacetan dan potensi bahaya lalu lintas. “Pekerjaan memang penting, tapi kami harap ada petugas jaga di jam sibuk. Karena kadang kendaraan saling berebut jalan,” keluh Andi, pengemudi ojek online, Selasa (15/7/2025).
Ketua RT 12 Kelurahan Timbau, Nasruddin, mengakui komunikasi dengan pelaksana proyek berjalan baik, namun pengawasan perlu ditingkatkan. “Rambu sudah ada, tapi kesadaran pengendara dan pengawasan petugas sangat dibutuhkan agar tak membahayakan pengguna jalan,” ujarnya.
Di sisi lain, pembicaraan soal pemekaran Kecamatan Tenggarong Seberang makin menguat. Warga di wilayah terpencil menilai kebijakan ini bisa mempermudah akses pelayanan publik. “Saya harus naik perahu, lanjut motor belasan kilometer kalau mau urus KK. Capek dan mahal,” kata Asri, warga Desa Loa Lepu, Rabu (16/7/2025).
Sekretaris Desa Teluk Dalam, Hendra, menilai pemekaran sudah layak. “Jika terbentuk kecamatan baru, kami bisa lebih cepat membangun dan tak lagi antre program di tingkat kecamatan lama yang wilayahnya terlalu luas,” jelasnya.
Tiga isu berbeda ini menggambarkan satu hal serupa: masyarakat Kukar kini semakin sadar terhadap pembangunan yang menyentuh kehidupan mereka langsung. Dari budaya yang kembali bangkit, proyek infrastruktur yang menuntut ketertiban, hingga tuntutan pemerataan administrasi wilayah—semuanya menandai dinamika daerah yang terus bergerak maju, tapi belum lepas dari tantangan keseimbangan antara pembangunan dan kenyamanan warga. (adv/diskominfo kukar)

Discussion about this post