progreskaltim.id Kelurahan Bukit Biru di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, memilih jalur berbeda di tengah gempuran modernisasi dan urbanisasi yang kian membudaya,. Jauh dari mengikuti arus pembangunan modern dan digitalisasi, wilayah ini justru berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai pertanian melalui konsep agrowisata berbasis padi sawah.
Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Bukit Biru, Sri Herlinawati, melihat potensi besar di balik bentang persawahan yang selama ini hanya dikenal sebagai lumbung pangan. Menurutnya, sawah bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan ruang hidup yang menyimpan nilai budaya, ekologi, dan edukasi lintas generasi.
“Kami ingin masyarakat kembali memandang sawah sebagai aset kebanggaan, bukan simbol keterbelakangan,” ujar Sri.
Program agrowisata Bukit Biru dirancang sebagai ruang interaktif antara petani, wisatawan, dan pelajar. Pengunjung akan diajak mengenal proses menanam hingga panen padi, sembari menikmati keindahan lanskap hijau yang membentang di tengah kota Tenggarong.
“Ada nilai edukasi, rekreasi, dan pelestarian di dalamnya,” tambah Sri.
Selain memperkenalkan kembali tradisi bertani, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi warga setempat. Beberapa kelompok tani kini tengah menyiapkan produk turunan seperti beras organik, olahan pangan lokal, dan paket wisata edukatif untuk sekolah-sekolah.
“Bayangkan anak-anak kota bisa turun ke lumpur, menanam padi, dan mengenal siklus tanam. Itulah edukasi berbasis alam yang ingin kami hidupkan,” katanya.
Pemerintah kelurahan juga menggandeng sejumlah pihak, termasuk Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk memperkuat infrastruktur pendukung. Rencana pembangunan jalur pedestrian, gazebo bambu, serta pusat edukasi padi sawah kini tengah digodok agar kegiatan agrowisata berjalan maksimal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa modernisasi bisa sejalan dengan pelestarian, bukan saling meniadakan,” ujarnya tegas.
Di era ketika anak-anak lebih mengenal padi dari buku gambar ketimbang dari lumpur, Bukit Biru berusaha menyambung kembali cerita itu melalui wisata, media sawah, hingga sentuhan tangan warga.
Bukit Biru tak hanya menciptakan destinasi baru di Kukar, tetapi juga menyampaikan pesan kuat, yakni kemajuan desa bisa berjalan seiring dengan pelestarian tradisi. (adv/diskominfokukar)

Discussion about this post