Anak Muda Gagal Ngerti Transisi Energi, Kolaborasi Jurnalis dan Ilmuwan Menjadi jadi Kunci

progreskaltim.id Isu terkait lingkungan lebih spesifik terkait transisi energi masih belum membumi di akar rumput. Minimnya literasi membuat isu ini terkesan ekslusif. Tak sedikit anak muda yang salah kaprah mengenai konsep transisi energi.

Wicaksono Gitawan dari Yayasan Indonesia Cerah berpandangan masyarakat Indonesia kurang pemahaman detail mengenai isu energi dan iklim. 

BacaJuga

Sebagai contoh, ia menyebut, 70% anak muda di Jabodetabek mengira transisi energi bersih sekedar berganti menggunakan kendaraan listrik.

“Kekuatan narasi pemerintah yang mendorong penggunaan kendaraan listrik sangat besar, sehingga pemahaman masyarakat tentang transisi energi lebih banyak terfokus pada hal tersebut,” ucap Wicaksono Kamis, 7 Agustus 2025 di Samarinda. 

Hari itu, Wicaksono menjadi salah satu pembicara dalam Lokakarya bertajuk “Transisi Energi Menentang Dominasi Pertambangan di Kaltim Kaltim,”. Lokakarya tersebut diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Samarinda bekerja sama dengan Yayasan Indonesia Cerah. 

Ia menjelaskan bahwa transisi energi tidak hanya pergantian energi kotor dari fosil ke energi terbarukan saja. Diperlukan pula pemahaman menyeluruh dari lapisan masyarakat yang juga harus melihat konsep berkeadilan dalam segi sosial dan lingkungan 

“Kita tidak bisa bicara energi terbarukan hanya dari sisi teknologi. Harus ada keberpihakan terhadap komunitas rentan yang selama ini menanggung beban industri kotor,” tutupnya. 

Karena itu, pemahaman soal transisi energi menjadi penting. Kolaborasi antara jurnalis dan ilmuwan, juga jadi kunci. Banyak penelitian ilmuwan yang sebenarnya menarik. Sehingga, jurnalis bisa merangkul ilmuwan dan mulai mencari riset-riset untuk mendukung liputan transisi energi.

“Banyak hasil riset yang bisa didapatkan. Bisa mulai menjalin hubungan dengan para ilmuwan,” kata Roby Irfany Maqoma dari The Conversation Indonesia saat mengisi materi.

Namun, diakui memang tidak mudah untuk menjalin hubungan dengan para ilmuwan ini. Ada sejumlah kekhawatiran dari para ilmuwan ketika penelitiannya dipublikasi dalam artikel populer yang mudah dinikmati khalayak. Untuk itu, jurnalis juga harus pintar-pintar memahami riset ilmuwan tersebut. Apalagi, jika berbicara isu transisi energi.

Sementara itu, Ketua AJI Samarinda Yuda Almerio, menyebut bahwa jurnalis memiliki peran vital dalam mengawal agar transisi energi tidak menjadi kedok baru eksploitasi.

“Transisi energi harus menantang dominasi industri ekstraktif, bukan berkompromi dengannya. Jurnalis punya tugas untuk membuka ruang narasi dari sisi warga, terutama yang terdampak langsung,” ujar Yuda.

Dia menekankan pentingnya liputan-liputan investigatif, berbasis data dan keberpihakan pada korban. Dalam agenda bersama ini, AJI Samarinda mendorong agar jurnalis tidak hanya jadi pengamat, tapi bagian dari perubahan yakni memastikan transisi energi di Kaltim benar-benar adil.

“Dengan kata lain inklusif, dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang,” pungkas Yuda.

Penulis : Haeda Dyah Masna Rahmadani

Editor : Nalendro Priambodo

Bagikan:

Discussion about this post

Populer

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10