Kisah Sukses Bupati Edi Mengubah Wajah Pertanian Kukar

progreskaltim.id Sujoko dirundung gelisah. Sudah beberapa minggu hujan tidak turun. Padi sawah yang baru saja ia tanam terancam gagal. “Tanpa air, sawah kami seperti layu tanpa jiwa,” kenang Sujoko, petani yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar).

Permasalahan itu sampai ke telinga, Bupati Kukar, Edi Damansyah. Masalah kelangkaan air rupanya tidak hanya terjadi di Kecamatan Sebulu. Tapi juga di Kecamatan Tenggarong Seberang. Dua kecamatan itu adalah salah satu lumbung pangan Kukar dan Kaltim.

BacaJuga

Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Kukar langsung memerintahkan pompanisasi air di 89 titik persawahan di dua kecamatan tersebut. Harapan baru tumbuh.

Air mengalir ke sawah-sawah petani yang hampir mati menderita dahaga. Air membawa nutrisi dan harapan baru bagi petani. Mimpi hamparan emas padi yang siap panen akhirnya terwujud.

Kepedulian Edi kepada para petani Kukar bukan kali ini saja. Sejak ia menjabat, janji-janji politik kepada para pejuang pangan ia realisasikan. Edi yang sejak kecil terbiasa bertani memahami, bahwa pertanian di Kukar butuh sentuhan modernisasi yang ramah lingkungan.

Komitmen itu ia tunaikan dalam Program Dedikasi Kukar Idaman. Program ini merupakan peta jalan pertanian Kukar yang modern dan ramah lingkungan. Lima kawasan pertanian terintegrasi berbasis kawasan disiapkan untuk menopang pangan Kukar, Kaltim dan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Kelima kawasan itu meliputi Kecamatan Marangkayu seluas 1.476 ha, Sebulu-Muara Kaman 3.034 hektare, Tenggarong -Loakulu 4.106 hektare, Tenggarong Seberang I seluas 4.447 hektare, dan Tenggarong Seberang II 4.447 hektare.

Pola pengelolaan pertanian terintegrasi dimulai dari memuliakan tanah. Tanah-tanah pertanian khas Pulau Kalimantan yang terkenal asam mulai diberikan kapur. Tujuannya agar penyerapan nutrisi pada tanaman semakin maksimal.

Mesin Ratopator dan ekscavator yang sangat berguna untuk menggemburkan sawah juga disalurkan Pemkab Kukar kepada Gabungan Kelompok Pertanian (Gapoktan). Salah satunya di Tenggarong Seberang.

Ketika padi mulai tumbuh, Pemkab Kukar di bawah kepemimpinan Edi Damansyah dan Rendi Solihin juga membantu pupuk. Baik lewat mempermudah mendapatkan pupuk bersubsidi. Juga bantuan berton-ton pupuk organik berbentuk granul. Di masa pertumbuhan itu pula, para penyuluh pertanian datang membantu petani. Tak ketinggalan, jalan usaha tani dan irigasi juga terus dibangun.

Tiba di masa panen. Para petani, tidak perlu direpotkan dengan memanen padi dengan cara manual menggunakan arit. Para Gapoktan juga menerima bantuan dari Pemkab Kukar sejumlah alat panen modern. Salah satunya, mesin combain yang mampu memanen padi lebih efektif dan efisien.

Alat-alat ini bukan hanya mempermudah pekerjaan, tetapi juga menjadi simbol dari kemajuan pertanian di wilayah tersebut.

“Kita harus memastikan bahwa pertanian di Kutai Kartanegara tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang,” ujar Bupati Edi Damansyah saat diwawancarai di sela-sela kunjungannya ke salah satu desa agrowisata belum lama ini.

Edi percaya bahwa pertanian adalah jantung dari Kutai Kartanegara. Oleh karena itu, ia tidak ragu untuk turun langsung ke lapangan, mendengarkan keluh kesah petani, dan mencari solusi atas tantangan yang dihadapi. Dari operasi pasar murah hingga pembangunan kawasan agrowisata, setiap program yang diluncurkan selalu mengedepankan kepentingan petani.

Upaya Edi mendongrak sektor pertanian pun berbuah manis. Data BPS Kaltim  sebagaimana tertuang di Provinsi Kalimantan Timur dalam Angka 2024, menunjukkan bahwa Kukar menyumbang 46,80 persen (26.744,87 hektare) dari keseluruhan luas panen padi sawah di Kaltim (57.143,29 hektare) pada 2023.

Produksi padi Kukar juga mencapai 106.411,09 ton, atau 49.42 persen dari total produksi di Kaltim. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah bukti nyata dari kerja keras dan dedikasi.

Laju Pertumbuhan PDRB dari sektor pertanian yang dikelompokkan bersama sektor kehutanan dan perikanan pun kembali meroket. Dari hanya 1,02 persen pada 2021 lalu, menjadi 2,91 persen pada 2023. Distribusi PDRB sektor itu pun mencapai 13,12 persen pada 2023, terbanyak setelah Pertambangan dan Penggalian/Mining and Quarrying sebesar 62,55 persen, dari sebelumnya 70,77 persen pada 2022.

Melesatnya sektor pertanian pun memberi dampak hebat terhadap Kukar secara umum. Ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Dari hanya 2,67 persen pada 2021, menjadi 5,13 persen pada 2023.

Tingkat kemiskinan juga turun dari 7,96 persen pada 2022 menjadi 7,61 persen pada 2023. tingkat pengangguran terbuka pun ikut turun menjadi 4,05 persen dari sebelumnya 5,66 persen pada 2021.

Pelan-pelan, upaya Edi Damansyah melakukan transformasi ekonomi di Kukar mulai terbayar. Namun, perjalanan ini masih jauh dari selesai. Misi besar membawa pertanian menjadi jagoan ekonomi Kukar ibarat sebuah kapal yang berlayar di tengah badai.

Kapal itu adalah komunitas petani, badainya adalah tantangan alam, dan Bupati Edi Damansyah adalah nakoda yang membawa mereka menuju pelabuhan yang aman.

Bagikan:

Discussion about this post

Populer

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10