Kolaborasi Desa dan DPMD Kukar Perkuat Posyandu Terpadu di Loa Lepu

progreskaltim.id Peningkatan layanan kesehatan dasar di Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, terus menunjukkan hasil positif. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kutai Kartanegara (DPMD Kukar) bersama pemerintah desa mendorong hadirnya posyandu terpadu yang memudahkan warga mengakses berbagai layanan dalam satu sistem. Model layanan terintegrasi ini dinilai memberi manfaat langsung bagi balita, remaja, dewasa, hingga warga lanjut usia.

Kepala Desa Loa Lepu, Sumali, menyampaikan bahwa penggabungan berbagai posyandu yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri menjadi langkah penting untuk memperluas partisipasi masyarakat. Ia menyebut respons warga sangat baik sejak layanan tersebut diterapkan. “Dengan aturan yang baru, posyandu yang dulu terpisah seperti posyandu lansia dan balita kini sudah dilebur jadi satu. Alhamdulillah, antusiasme masyarakat luar biasa, khususnya di wilayah Loa Lepu,” ujar Sumali.

BacaJuga

Perubahan ini semakin terasa manfaatnya setelah desa memiliki bangunan posyandu yang berdiri mandiri. Sebelum hadirnya fasilitas tersebut, kegiatan kesehatan rutin masih memanfaatkan ruangan Polindes. Dengan gedung baru, kegiatan pelayanan berjalan lebih tertata dan efisien. “Bangunannya pun sudah kita siapkan khusus. Ini membuat layanan kesehatan bisa berjalan lebih mandiri dan efisien,” jelasnya.

Pemerintah desa juga menyesuaikan pola jadwal dengan menyatukan layanan posyandu balita dan posbindu bagi kelompok usia remaja hingga dewasa. Pola integrasi layanan ini memudahkan warga menerima beberapa jenis pelayanan dalam satu kunjungan. “Ketika anak-anak diperiksa di posyandu, ibunya bisa langsung ikut layanan kesehatan di posbindu. Cara ini cukup efektif meningkatkan kehadiran masyarakat,” tambah Sumali.

Selain layanan rutin, perhatian terhadap pencegahan stunting juga diperkuat. Tiga kasus yang ditemukan di desa telah mendapatkan pendampingan meskipun penyebabnya berasal dari faktor genetik. “Memang ada tiga anak yang masuk indikator stunting, tetapi faktor utamanya berasal dari kondisi postur tubuh orang tuanya yang memang kecil. Meski begitu, tetap kami intervensi,” ungkapnya.

Intervensi kader PKK berupa pemantauan gizi menunjukkan hasil menggembirakan. Ketiga anak tersebut kini tidak lagi tercatat sebagai stunting. “Peran ibu-ibu PKK sangat besar dalam mendampingi keluarga-keluarga ini,” kata Sumali.

Ia menegaskan bahwa capaian ini lahir dari kolaborasi pemerintah desa, kader posyandu, dan PKK. Sumali menutup dengan apresiasi, “Kita bersyukur karena bangunan posyandu ini dibantu oleh DPMD Kukar. Dengan adanya bantuan ini, fasilitas pelayanan menjadi lebih memadai.” ujarnya. 

Di tingkat kabupaten, integrasi dan revitalisasi Posyandu juga terus digarap. Beragam nama dan layanan Posyandu di desa-desa Kutai Kartanegara menimbulkan kebingungan warga dan menghambat akses pelayanan. Posyandu Ibu dan Balita, Posyandu Lansia, Posyandu Remaja, hingga Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu), kerap membuat masyarakat tak tahu layanan mana yang harus diakses.

Menanggapi masalah ini, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar segera menyeragamkan seluruh Posyandu agar menjadi satu pintu layanan terpadu yang jelas dan mudah dijangkau oleh seluruh warga. Dari kelompok usia balita hingga lansia.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Ekonomi Desa DPMD Kukar,

Asmi Riyandi Elvandar, menyebut upaya ini demi memperkuat identitas Posyandu sebagai pusat pelayanan desa yang menyeluruh.

“Penamaan akan diseragamkan, namun jenis layanannya tetap menyesuaikan kebutuhan kelompok usia masing-masing,” terang Elvandar beberapa waktu sebelumnya kantornya. (adv/dpmdkukar)

Bagikan:

Discussion about this post

Populer

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10