Manfaat Agroforestri Karet untuk Ekonomi Petani dan Mitigasi Perubahan Iklim

progreskaltim.id Di balik getahnya yang menopang ekonomi rakyat, karet juga menyimpan peran penting lain. Yakni membantu melawan perubahan iklim. Banyak riset memaparkan, melalui sistem agroforestri, karet ditanam bersama pohon buah, tanaman pangan, atau kayu lokal dapat menghasilkan manfaat ganda: ekonomi dan ekologi.

Tak hanya itu, karet juga dikenal dengan tanaman berumur panjang. Setelah ditanam, butuh waktu sekitar tujuh tahun sebelum bisa disadap. Namun, setelah itu pohon karet dapat dipanen rutin hingga 30-40 tahun.

BacaJuga

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 mencatat, luas kebun karet di Kaltim mencapai 53 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata 0,9 ton per hektare per tahun. Meski tak sebesar sawit, karet tetap menjadi tumpuan ribuan keluarga. Utamanya di Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Paser.

Monokultur vs Agroforestri

Penanaman karet secara monokultur berarti menanamnya dalam satu hamparan luas. Pola ini mudah dikelola. Panennya lebih seragam, dan biasanya diterapkan pada perkebunan skala besar. Seperti industri kelapa sawit yang sekarang sedang tren di Kaltim.

Hanya saja, sistem penanaman monokultur rentan terhadap kerusakan ekologi. Monokultur cenderung mengurangi kesuburan tanah, mempercepat erosi, dan menurunkan keanekaragaman hayati. Tutupan pohon yang homogen juga kurang optimal dalam menyerap karbon dan menjaga siklus air.

Dari sisi ekonomi, ketergantungan pada satu komoditas dapat mengguncang petani ketika harga karet jatuh di pasar global. Kerentanan itu makin terasa karena produktivitas kebun karet rakyat relatif rendah. Rata-rata, kebun karet rakyat di Indonesia hanya menghasilkan sekitar 0,5 ton per hektare, jauh di bawah perkebunan monokultur yang bisa mencapai 1,8 ton per hektare.

Agroforestri karet menawarkan pendekatan lebih berlapis. Sistem ini pohon karet berdampingan dengan pohon lain. Ketika ditanam dalam pola agroforestri, manfaat kebun karet berlipat ganda. Tanaman pendamping seperti durian, kakao, atau jengkol, memberi hasil tambahan. Diverfikasi pendapatan melalui agroforestri telah teruji. Agroforestri karet 15-30 persen lebih tinggi dibanding hanya mengandalkan getah karet.

Dari sisi iklim, karet berperan sebagai penyerap karbon. Laman Heveaplanet melaporkan, semakin banyak pohon karet yang ditanam, semakin besar pula kemampuan menyimpan karbon dan membantu mitigasi perubahan iklim.

Sementara tutupan pohon beragam dari teknik agroforestri dapat menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, serta mempertahankan cadangan air. Sistem ini mampu menyimpan hingga 79 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur yang hanya berkisar 30-40 ton per hektare.

Perkebunan karet di Kaltim didominasi kebun rakyat. Masih ada peluang. Bila dikembangkan ke arah agroforestri, kebun-kebun tersebut menjadi benteng ekonomi sekaligus ekologi. Terutama di daerah rawan perubahan iklim.

Penulis: Redaksi progreskaltim.id

Bagikan:

Discussion about this post

Populer

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10