progreskaltim.id Sudah sejak turun temurun warga di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) tinggal di permukiman di pinggir Sungai Mahakam. Rumah-rumah panggung yang sejak dulu berdiri menjadi bagian dari kearifan lokal dalam memitigasi bencana banjir. Namun kini, alam sudah kian tak bersahabat. Banjir semakin tinggi dan rumah-rumah kerap tenggelam diterjang air bah.
Contohnya, banjir besar yang melanda Mahulu, 13-17 Mei 2024 lalu. Banjir mencapai ketinggian lebih dari 3 meter di permukiman. Kenaikan muka air diprediksi lebih besar jika menghitung tinggi dermaga ke permukiman yang bisa lebih dari 5 meter.
Banjir beberapa waktu lalu juga terhitung ganas. Sedikitnya, 38 dari 50 kampung terendam air bah.
Berkaca dari hal tersebut, Bupati Mahulu, Bonifasius Belawan Geh menganjurkan relokasi permukiman warga ke tempat yang lebih aman dari terjangan air banjir. Meski demikian rencana itu tak mudah.
“Ini membutuhkan perencanaan jangka panjang dan sosialisasi yang masif kepada masyarakat untuk mengajak mereka pindah dari tempat yang terdampak banjir ke area yang lebih aman,” ujar Bupati Bonifasius ketika menerima kunjungan Pangdam VI/Mulawarman Mayjen Tri Budi Utomo, Rabu, 22 Mei 2024.
Hari itu, jendral bintang dua ini datang untuk meninjau dan menyerahkan bantuan sosial kepada korban banjir di Kabupaten Mahulu.
Bupati menyadari, upaya merelokasi warga ke tempat yang lebih tinggi bukan perkara mudah. Selain karena faktor kultural sejak turun temurun, pemindahan masyarakat ke tempat yang lebih tinggi membutuhkan biaya yang besar.
“Kita harus berkoordinasi dengan Provinsi dan Pemerintah Pusat. Apabila disetujui, kita pasti akan melaksanakan. Masyarakat tidak memiliki biaya dan kemampuan untuk membangun area permukiman yang baru, jadi harus dibantu oleh Pemerintah Pusat,” ungkap Bonifasius.
Sementara itu, Pangdam VI/Mlw Mayjen Tri Budi Utomo mengakui bahwa kehadirannya di Kabupaten Mahulu sedikit terlambat. Namun, ia menegaskan bahwa niat baik ini adalah untuk membantu masyarakat Mahulu. Pemerintah daerah telah menetapkan status darurat bencana, dan Dandim, Kapolres, serta Bupati telah melakukan tindakan untuk memindahkan masyarakat ke daerah yang lebih tinggi.
“Diharapkan masyarakat yang berada di tepi sungai mau untuk berpindah ke daerah yang lebih aman. Cuaca yang tidak menentu dan hujan yang tidak bisa diprediksi membuat air sungai berpotensi naik kembali,” kata Pangdam VI Mulawarman. (adv/prokopimmahulu)

Discussion about this post