progreskaltim.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda melaporkan, pada awal tahun 2025 hingga Agustus, terdapat 1.645 penderita Tuberkulosis (TBC). Penyakit menular itu menyebabkan 44 kasus kematian.
Menurut Kepala Dinkes Samarinda, dr Ismed Kosasih, temuan tahun 2025 cenderung lebih sedikit ketimbang tahun lalu. Pada 2024, ada 4.042 orang terinfeksi TBC. Angka mortalitas mencapai 145 kasus.
Per 10 September 2025, penemuan kasus TBC di Samarinda kembali meningkat. Jumlahnya sebesar 2.390 kasus, yang didata dari 135 fasilitas kesehatan. Mayoritas penderita penyakit ini adalah laki-laki.
Ismed berpendapat, banyaknya temuan kasus dapat mempercepat penanganan. Sehingga penderita cepat diobati dan risiko kematian dapat ditekan.
“Temuan kasus ini positif. Mencapai sekitar 50 persen dari target kami,” kata Ismed, saat ditemui progreskaltim.id, di kantornya, Jalan Milono, Kelurahan Bugis, Kecamatan Samarinda Kota, Rabu (10/8/2025).
TBC termasuk dalam 12 indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang mesti dipenuhi pemerintah daerah tingkat kabupaten dan kota.
Hasil temuan penyakit pernapasan kronis tersebut telah dilaporkan Ismed dalam rapat daring bersama Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Dirjen Bina Bangda) Kementerian Dalam Negeri pada Selasa (9/9/2025) lalu. Salah satu upaya untuk mengurangi risiko kematian, menurut Ismed, adalah skrining awal kasus TBC.
“Kami berharap banyak menemukan kasus penderita TBC,” ujarnya.
Selain pengelola fasilitas kesehatan, Dinkes Samarinda telah menggandeng sejumlah pihak untuk memperluas jangkauan pemeriksaan. Salah satunya Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI).
“Kami juga dipanggil DPRD Samarinda, terkait inisiasi membuat perda (peraturan daerah) tentang penanganan TBC,” tandasnya.
Penulis: Haeda Dyah Masna Rahmadani
Editor: Ridho

Discussion about this post