progreskaltim.id Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar, Suprayetno menjelaskan sebagian besar perempuan berlatar belakang pendidikan rendah kerap bekerja di sektor informal. Mereka menghadapi beban ganda. Memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjalankan tugas domestik di rumah.
“Mereka rentan mengalami beban ganda karena harus bekerja di luar rumah, seperti menjadi pembantu rumah tangga, dan tetap mengurus rumah tangga,” jelas Heru, April 2025.
Tak heran, mereka masuk kategori perempuan berpenghasilan rendah. Sebagai upaya pemberdayaan menuju kesetaraan hak dan perlindungan anak, DP3A Kukar mengadakan sejumlah pembinaan.
Sejumlah pelatihan telah digelar. Mulai dari keterampilan praktis memasak, menjahit hingga merias diri.
Program ini diharapkan mendorong perempuan mandiri mengembangkan usaha rumahan mandiri yang mampu menopang penghasilan keluarga.
Pelatihan tersebut juga dilengkapi dengan pemberian peralatan kerja, seperti mesin jahit dan perlengkapan makeup, sehingga peserta dapat langsung memanfaatkan kemampuan baru mereka untuk berwirausaha.
Sehingga perempuan usia produktif mendapatkan pelatihan keterampilan yang lebih intensif. Disisi lain, peserta perempuan yang lanjut usia akan disokong dalam hal bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH).
“Pendekatan ini kami lakukan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.
Upaya pemberdayaan ini diharapkan mampu mengurangi angka kemiskinan di kalangan perempuan kepala keluarga sekaligus membuka peluang usaha kecil di masyarakat. DP3A Kukar optimis bahwa dengan peningkatan kapasitas dan dukungan yang memadai, perempuan berpenghasilan rendah dapat menjadi pelaku ekonomi yang tangguh dan mandiri.
Program pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Kukar dalam mensejahterakan dan memperdaya perempuan dalam ketahanan ekonomi keluarga. [adv/diskominfokukar]

Discussion about this post