progreskaltim.id Kelurahan Melayu di Kecamatan Tenggarong memilih langkah berbeda dalam upaya meningkatkan gizi masyarakat. Saat pemerintah pusat tengah gencar menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, Kelurahan Melayu justru mengembangkan inisiatif lokal lewat dapur kolektif berbasis komunitas.
Berbeda dengan program MBG yang memiliki dukungan anggaran dan struktur pelaksana nasional, program di Kelurahan Melayu dijalankan tanpa alokasi dana khusus. Meski begitu, hal itu tak menghalangi semangat pemerintah kelurahan bersama Tim Penggerak PKK untuk berinovasi.
“Strategi ini kami fokuskan untuk ibu hamil dan menyusui. Mereka punya peran penting dalam tumbuh kembang anak. Jadi penting memastikan mereka mendapat asupan gizi yang cukup sejak dini,” kata Lurah Melayu, Aditiya Rakhman, awal Juni 2025 kepada awak media.
Kolaborasi PKK, DPMPD, dan Puskesmas
Menurut Aditiya, kegiatan ini dijalankan secara gotong royong. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) membantu penyediaan bahan pangan dan kebutuhan operasional, sementara PKK mengolah makanan sesuai standar gizi dari Puskesmas.
“Anggarannya tidak khusus untuk program ini. Tapi bantuan tetap disalurkan melalui PKK. DPMPD yang mengelola, PKK yang memasak,” ujarnya.
Setelah diolah, makanan dikemas sesuai takaran dan didistribusikan lewat jaringan Posyandu yang tersebar di Kelurahan Melayu. Puskesmas memastikan kandungan nutrisi tiap porsi memenuhi standar yang dibutuhkan ibu dan anak.
Distribusi Lewat Posyandu, Jangkau Kelompok Rentan
Penyaluran makanan bergizi ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dengan gizi kurang. Posyandu kembali berperan sebagai pusat kegiatan warga, bukan hanya untuk pemeriksaan kesehatan, tapi juga edukasi tentang pentingnya pola makan sehat.
“Peran kader Posyandu dan ibu-ibu PKK sangat besar. Mereka jadi penghubung antara kebijakan dan kebutuhan warga,” kata Aditiya.
Meski berbeda arah dengan program MBG yang menyasar siswa sekolah, Kelurahan Melayu tak menganggap inisiatif ini sebagai pesaing. Menurut Aditiya, program lokal justru menjadi pelengkap dari upaya pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
“Kalau nanti ada arahan dari dinas, tentu kami siap bersinergi,” tambahnya.
Gotong Royong dari Dapur Warga
Lebih dari sekadar program gizi, dapur kolektif ini menumbuhkan kembali semangat gotong royong di lingkungan masyarakat. Ibu-ibu PKK tak hanya memasak, tapi juga ikut mendata penerima manfaat dan mengedukasi warga soal pentingnya gizi keluarga.
Model seperti ini dinilai bisa menjadi contoh untuk daerah lain, terutama wilayah yang belum terjangkau MBG atau punya keterbatasan anggaran.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan kolaborasi lintas instansi, Kelurahan Melayu membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa memberi dampak besar bagi kesehatan masyarakat. (adv/diskominfokukar)

Discussion about this post