progreskaltim.id Desa Tani Bhakti, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar) memang beda. Di saat banyak desa di sekitarnya tergoda menjual lahan, Tani Bhakti justru memilih bertahan dengan sawahnya.
“Tambang batu bara memang menggiurkan, tapi pertanian adalah warisan yang harus dijaga,” kata Muhammad Amin, Kepala Desa Tani Bhakti, kepada media pertengahan Mei 2025.
Keputusan itu mungkin terdengar aneh di tengah derasnya investasi tambang yang menjanjikan uang cepat. Tapi bagi Amin, ini bukan soal menolak kemajuan, melainkan menentukan arah masa depan. Ia yakin, desa bisa tetap maju tanpa harus kehilangan jati diri sebagai desa pertanian.
Amin tahu bahwa bertahan saja tidak cukup. Ia mulai mengubah wajah pertanian Tani Bhakti dengan pendekatan modern. Bersama penyuluh dan dinas pertanian, ia menggagas pelatihan untuk mengenalkan teknologi ke sawah: drone untuk pemantauan tanaman, sensor tanah, hingga sistem irigasi otomatis.
“Kita harus mempersiapkan generasi muda jadi petani baru. Mereka tidak cukup hanya bisa mencangkul, tapi juga harus paham teknologi,” ujarnya.
Program ini menjadi bagian dari gerakan regenerasi petani muda. Amin sadar, tantangan terbesarnya bukan pada alat, tapi pada pola pikir. Banyak anak muda melihat bertani sebagai pekerjaan kuno. Maka ia mulai mendekati mereka lewat komunitas, pelatihan hidroponik, budidaya padi organik, dan pelatihan pemasaran digital.
“Kalau diberi akses dan inspirasi, anak-anak muda akan bangga jadi petani. Ini bukan lagi bertani seperti dulu, tapi bertani dengan visi masa depan,” katanya.
Tani Bhakti tak bisa menutup mata dari kenyataan: tawaran investasi tambang datang silih berganti. Ada yang datang dengan janji lapangan kerja, ada yang menawarkan kompensasi untuk lahan. Tapi Amin memilih berhati-hati.
“Kami tidak anti-investasi, tapi tidak ingin kehilangan akar. Kalau sawah hilang, apa yang akan diwariskan untuk anak cucu kami?” ujarnya lirih.
Bagi Amin, keputusan mempertahankan pertanian adalah pilihan moral dan ekologis. Ia menyebutnya sebagai “menanam keputusan untuk masa depan.” Sebab, di saat tambang hanya meninggalkan lubang dan debu, pertanian meninggalkan kehidupan.
Kini, Desa Tani Bhakti dikenal sebagai salah satu desa di Kukar yang konsisten menolak ekspansi tambang besar-besaran. Di sini, pertanian bukan hanya soal produksi pangan—tetapi juga identitas, budaya, dan simbol keberlanjutan.
“Yang kami tanam bukan sekadar padi,” kata Amin, menatap sawah yang mulai menghijau. “Yang kami tanam adalah keberanian untuk tetap berpijak di tanah sendiri.” pungkasnya. (adv/diskominfokukar)

Discussion about this post