Kaltim, Kapsul Waktu dan IKN

Dipilihnya sebagian wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bukan kebetulan. Ia lahir dari sebuah visi misi Indonesia dan Kaltim 70 tahun ke depan. Tepatnya tahun 2085 mendatang. Gagasan dan tindakan itu disarikan menjadi 7 mimpi warga Kaltim yang disimpan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam monumen Kapsul Waktu di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. 8 tahun kemudian, 2 dari 7 mimpi itu benar-benar terwujud. Bagaimana kisahnya ?

progreskaltim.id X Urban Folk News Sebuah gapura berukuran besar berdiri kokoh di halaman Stadion Madya Sempaja. Gerbang berkelir merah dan putih itu berhasil mencuri perhatian ribuan pasang mata. Di bagian mahkota dengan panjang sekira 5 meter itu bertuliskan ‘Gerakan Ayo Kerja, 70 Tahun Indonesia Merdeka’. Di kiri dan kanan tiang setinggi kira-kira empat meter tertulis “Ekspedisi Kapsul Waktu 2085’.

BacaJuga

Gapura itu bukan sekedar menjadi titik awal dan selesai jalan santai menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Kaltim ke-70, Minggu, 17 Agustus 2015. Melainkan juga penanda dimulainya peluncuran awal “Ekspedisi Kapsul Waktu 2085” di Kaltim.

Ekspedisi Kapsul Waktu merupakan ekspedisi kerja bersama gotong royong skala nasional antara Panitia Nasional Gerakan Ayo Kerja 70 Tahun Indonesia Merdeka. Ekpedisi bekerjasama dengan kementerian, lembaga pusat dan dengan panitia daerah yang terdiri dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota beserta unsur sipil dari beragam latar belakang di daerah setempat.

Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 itu adalah cara Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjaring aspirasi masyarakat Indonesia. Semua harapan rakyat di setiap kabupaten dan kota serta provinsi dikemas menjadi 7 mimpi. Pada tanggal 21 Desember 2015, seluruh mimpi itu yang telah dimasukkan dalam kapsul ditanamkan dalam sebuah monumen di Merueke, Papua. Nanti, pada tahun 2085 baru dibuka kembali oleh generasi saat itu. Pengingat cita-cita pendahulu. 

Ekspedisi Kapsul Waakte di Kaltim
Soft Launching Ekspedisi Kapsul Waktu Kaltim. Antara-ist.jpg

Perjalanan Ekspedisi Kapsul Waktu merupakan perjalanan yang besar. Melewati 34 Provinsi, menempuh perjalanan 30.500 km mulai dari Banda Aceh pada tanggal 22 September 2015 dan berakhir pada tanggal 21 Desember di Merauke.

Gubernur Kaltim kala itu, Awang Faroek Ishak menegaskan komitmennya mendukung gerakan nasional dan ekspedisi ini. Sebagai komitmen Pemerintah Provinsi Kaltim, Awang, di atas kursi rodanya menegaskan akan mengundang 10 kepala daerah untuk melaksanakan rapat dengan panitia daerah (panda) Ekspedisi Kapsul Waktu pada Kamis, 19 Agustus 2015.

“Saya akan ajak 10 kepala daerah kabupaten/kota untuk mendukung panitia daerah Ekspedisi Kapsul Waktu tersebut. Saya minta tim panitia daerah, mempresentasikan kegiatan dari pusat itu kepada para bupati dan wali kota nanti,” ujar Awang Faroek Ishak yang kala itu menjabat Gubernur Kaltim di periode kedua.

Menjaring Mimpi

Awang Faroek Ishak benar-benar merealisasikan komitmennya. Pemerintah daerah, lembaga dan organisasi masyarakat sipil di Kaltim diminta mengusulkan harapan dan resolusinya di kapsul waktu. Penjaringan mimpi dilakukan dengan berbagai tahapan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kaltim menjaring mimpi di lingkungan Satuan Kerja Perangkat Derah (SKPD). Sementara kabupaten dan kota menjaring harapan warga dengan cara masing-masing. Totalnya, Panitia Daerah Kapsul Waktu 2085 di Kaltim berhasil menjaring 257 harapan warga Kaltim.

Ratusan mimpi warga Benua Etam – sebutan Kaltim ini kemudian dirumuskan panitia daerah Kapsul Waktu 2085. Perumusan melibatkan cendekiawan kampus, birokrat dan panitia daerah. 12 anggota tim perumus itu bergelar professor itu di antaranya ; Dwi Nugroho Hidayanto, Enny Rochaida, Adri Paton.

Panitia Daerah Kapsul Waktu. Bappeda Kaltim

Beranggotakan, Niel Makinuddin dan Ketua Dewan Pendidikan Kaltim Bohari Yusuf serta Staf Balitbangda, Bappeda Kaltim dan Panitia Daerah EKW 2085 Kaltim. Dari ratusan mimpi itu kemudian tim perumus melakukan klasifikasi. Membuat 7 kelompok isu, sampai akhirnya menghasilkan 20 hasil ekstrak seluruh harapan dan mimpi tersebut.

“Setelah melewati tahapan-tahapan, ditambah masukan dari berbagai pihak, akhirnya kita mendapatkan 7 mimpi masyarakat Kalimantan Timur,” ujar Dwi Nugroho Hidayanto.

Tujuh mimpi warga Kaltim itu di antaranya ; Kalimantan Timur Sebagai Lokomotif Ekonmomi Asia Timur, Kalimantan Timur Menjadi Paru-Paru Dunia, Kalimantan Timur Sebagai Ibukota Republik Indonesia, Masyarakat Kalimantan Timur yang Cerdas, Profesional dan Beradab., Infrastruktur Kalimantan Timur yang Modern dan Ramah Lingkungan, Sumberdaya kalimantan Timur untuk Kesejahteraan Rakyat dan terakhir Masyarakat Kalimantan Timur yang Agamis dan Berbudaya.

Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi Wongso punya cerita di balik perumusan 7 mimpi masyarakat Kaltim di dalam Kapsul Waktu 2085 itu. Di tahun 2015 ketika ekspedisi itu berlangsung, Rusmadi yang juga Kepala Bappeda dan Pelaksana Harian Sekretaris Provinsi Kaltim menggagas Seminar Sehari Ekspedisi Kapsul Waktu di Kompleks Kegebernuran Kaltim.

Seminar Kapsul Waktu Kaltim 2085 di Kegernuran Kaltim 2015 – Biro Adpim Setdaprov Kaltim

“Rumusan 7 mimpi tidak lahir begitu saja, melalui proses seminar. Kita menggagas seminar merumuskan 7 mimpi warga Kaltim, tanggal 7 Oktober 2015,” kata Rusmadi menceritakan ulang pengalamannya ketika menghadiri peluncuran buku Historipedia Kalimantan Timur, Dari Kudungga, Samarinda hingga Ibu Kota Nusantara di Gedung Profesor Masjaya, Univeristas Mulawarman, Selasa, 23 Januari 2023.

Sebagai informasi, buku setelab 142 halaman ini menceritakan sejarah perkembangan dari era kerajaan Martapura, Kaltim hingga IKN. Buku terbitan RV Pustaka Horizon cetakan pertama tahun 2024 ini ditulis oleh dua sejarawan publik. Muhammad Sarip dan Nanda Puspita Sheilla. 

Mewujudkan Harapan

Mimpi dan harapan tidak akan terwujud tanpa kerja nyata. Rusmadi bercerita mimpi pertama Kaltim di dalam kapsul waktu perlahan terwujud. Pertama, menjadikan Kaltim sebagai paru-paru dunia.

“Kaltim menjadi satu-satunya provinsi yang mendapatkan dana perdagangan karbon. Bank Dunia sudah memberikan dana sebesar U$ 110 juta setara Rp 1,7 triliun. Pemprov Kaltim melalui Pak Isran Noor (Gubernur Kaltim periode 2018-2023) telah menerima panjar setara Rp 300an miliar,” tutur Rusmadi dalam diskusi hari itu.

Gubernur Kaltim periode 2018-2023 Isran Noor – Biro Adpim Setdaprov Kaltim

Keberhasilan Kaltim mewujudkan mimpi pertama ini bukan turun dari langit. Isran Noor dalam sebuah kesempatan menjelaskan, keberhasilan Kaltim mendapat dana karbon karena kontribusi besar pemimpin sebelumnya.

“Itulah karya Awang Faroek Ishak, Gubernur Kalimantan Timur, saya hanya melanjutkan,” ungkap Isran saat Mubes IV DPP Ikatan Alumni Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur (IA KPMKT) Tahun 2023 di Pendopo Kolam Ulin Jalan PM Noor Samarinda, Sabtu 27 Mei 2023.

Sejak kepemimpinan Awang Faroek Ishak (periode 2008-2018), menurut Isran, tidak sedikit kebijakan pemerintah daerah yang diterbitkan seperti peraturan daerah (perda) dan peraturan kepala daerah (peraturan gubernur) untuk melindungi dan mengembangkan kawasan hutan agar lebih memberi manfaat.

Selain itu, inovasi terkait lingkungan hidup dan pelestarian hutan juga dikembangkan, seperti Program Kaltim Green (Kaltim Hijau) dan Pembangunan Perkebunan Berkelanjutan, serta pengembangan pertanian dalam arti luas (subsektor kehutanan).

Kembali ke Rusmadi. Mimpi kedua warga Kaltim yang terwujud dalam Kapsul Waktu 2085 adalah dipilihnya Kaltim sebagai lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Presiden Jokowi menjelaskan pemilihan Kaltim menjadi IKN didasarkan atas lima pertimbangan.

Pertama, risiko bencana minimal (baik banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi dan tanah longsor, kedua, Lokasi strategis (berada di tengah-tengah Indonesia), tiga, bedekatan dengan wilayah perkotaan yang sudah berkembang (Balikpapan dan Samarinda). Keempat, telah memiliki infrastruktur yang relatif lengkap. 5. Sudah tersedia lahan yang dikuasai pemerintah seluas 180.000 hektar.

Presiden Joko Widodo berjalan seusai memberikan keterangan pers terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019). Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. – (antarafoto)

 

Sebagai informasi, di era kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak, ada banyak pembangunan infrastruktur di Kaltim. Mulai dari jalan Tol Samarinda – Balikpapan, Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda, Bandara Sultan Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan sampai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy di Kutai Timur.

“Luar biasa kecerdasan rakyat Kaltim merumuskan masa depan Kaltim. Walaupun ini mimpi, 8 tahun kemudian, terwujud cita-cita rakyat Kaltim,” kata Rusmadi yang meniti karier di lingkungan Pemprov Kaltim sebagai Kepala Bappeda sejak tahun 2009 hingga purna tugas sebagai Sekretaris Provinsi Kaltim tahun 2018 lalu ini.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Mirna Asnawati Savitri memberi penjelasan tambahan. Menurutnya, keberaan kerajaan hindu tertua di Indonesia, Kutai, Kaltim dan IKN membuktikan ada babak baru dalam sejarah. Baginya, bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga dengan sejarahnya.

“Sejarah ditempatkan menjadi kebanggan diri. Sejarah menunjukkan ada tokoh inspiratif untuk Kaltim dan republik,” terang Mirna dalam diskusi peluncuran buku Historipedia Kalimantan Timur, Dari Kudungga, Samarinda hingga Ibu Kota Nusantara.(*)

Penulis : Nalendro Priambodo

Bagikan:

Discussion about this post

Populer

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10