progreskaltim.id Selain menjadi pusat transaksi ekonomi selama bulan puasa, Lorong Pasar Ramadan di Tenggarong kini menjelma sebagai destinasi wisata kuliner yang menarik bagi warga dan pengunjung dari luar daerah. Suasana khas Ramadan berpadu dengan ragam cita rasa kuliner lokal, menjadikan kawasan ini magnet baru bagi masyarakat yang ingin menikmati pengalaman berbuka puasa yang berbeda.
Camat Tenggarong, Sukono, mengatakan, geliat ekonomi di Lorong Pasar Ramadan tahun ini terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Kecamatan menargetkan nilai transaksi bisa mencapai Rp40 miliar, seiring meningkatnya jumlah pedagang dan antusiasme pengunjung.
“Alhamdulillah, di lapangan hampir seluruh jajanan yang dijajakan pedagang ludes terjual. Ini menandakan minat masyarakat sangat besar,” ujarnya, Jumat, 14 Maret 2025.
Kawasan yang berlokasi di depan Masjid Agung Sultan Sulaiman ini bukan sekadar tempat berbelanja takjil. Lorong Pasar Ramadan juga menghadirkan suasana kebersamaan yang menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat, serta membuka peluang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk berkembang.
Dibuka secara resmi oleh Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah pada 1 Maret 2025, kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Pemerintah Kecamatan Tenggarong, Forum Pedagang, dan Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Masjid Agung Sultan Sulaiman. Tahun ini, lebih dari seratus pedagang mengisi area pasar yang terbagi di tiga titik utama, mulai dari Jalan Monumen Barat dan Timur hingga Jalan Panjaitan.
Lorong Pasar Ramadan telah memasuki tahun ketiganya dan kini menjadi ikon kegiatan Ramadan di Kutai Kartanegara. Tidak hanya menghadirkan kuliner khas daerah seperti apam, onde-onde, dan lemang, tetapi juga makanan kekinian seperti kebab dan es kepal Milo. Beberapa pengrajin lokal juga turut menjajakan produk kreatif seperti manik-manik dan kain tenun tradisional.
“Pemerintah daerah berkomitmen menjaga agar kegiatan ini berjalan tertib dan memberi manfaat luas bagi warga. Kami ingin semua pedagang terakomodasi dengan baik dan lokasi tertata rapi,” tutur Sukono.
Keberadaan pasar ini turut mendongkrak pendapatan pelaku usaha kecil. Siti, salah satu pedagang kue tradisional, mengaku omzetnya meningkat hingga dua kali lipat selama Ramadan. “Biasanya saya hanya jualan online, tapi di Pasar Ramadan ini pembeli jauh lebih ramai,” katanya.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan antusiasme masyarakat, Lorong Pasar Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi penggerak ekonomi musiman, tetapi juga menguatkan posisi Tenggarong sebagai kota dengan ekosistem kuliner lokal yang dinamis. Di tengah suasana religius Ramadan, pasar ini menjadi simbol ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari semangat gotong royong dan kreativitas warga. (adv/diskominfokukar)

Discussion about this post