progreskaltim.id Stunting menjadi persoalan serius. Bukan hanya bagi tumbuh kembang anak. Tapi juga dampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak. Oleh karena itu, butuh intervensi kebijakan lewat kolaborasi antara pemerintah, orang tua dan pemangku kebijakan.
“Dalam hal ini, peran aktif dari perangkat daerah dan masyarakat adalah kunci keberhasilan,” demikian disampaikan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting dan Wakil Bupati Mahulu, Yohanes Avun kala membuka Rembuk Stunting Terintegrasi di Balai Adat Ujoh Bilang, Kamis, 5 Oktober 2023.
Rembuk Stunting Terintegrasi ini digelar oleh Bappelitbangda Mahulu. Upaya ini sebagai bagian pelaporan hasil analisis situasi dan pemetaan kegiatan penanganan stunting di Mahulu terintegrasi dan komperhensif.
Artinya, sambung Avun, upaya ini tidak hanya fokus pada aspek gizi semata. Namun juga melibatkan sektor pendidikan, kesehatan dan sosial.
“Saya percaya bahwa pendekatan terintegrasi ini akan menjadi kunci keberhasilan dalam mengurangi dan mengatasi stunting di Kabupaten Mahulu,” yakin Avun.
Sejauh ini, kinerja Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) patut diapresiasi. Kabupaten termuda di Kaltim ini berhasil menekan prevalensi kasus stunting dari 20,8 persen di 2021 menjadi 14,3 persen di 2022.
Penurunan prevalensi stunting ini menjadi salah satu yang terendah di Kaltim. Data ini dikeluarkan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Mahulu dan Dinas Kesehatan Kaltim.
Meski sudah menuai hasil positif, ia tetap mengajak seluruh lapisan masyarakat, kepala Organisasi Perangkat Derah di Mahulu hingga kampung terlibat langsung menurunkan angka stunting di Mahulu.
“Dengan gerakan program intervensi langsung di masing-masing wilayah, sinergitas dan kolaborasi yang mantap ini akan membawa Mahulu menuju target penurunan stunting mencapai 14 persen di tahun 2024,” pungkasnya. (advprokopimmahulu)

Discussion about this post